Get Adobe Flash player
STMIK Amikom Yogyakarta

STMIK Amikom Yogyakarta

"Tempat Kuliah Orang Berdasi"

Welcome

Click in Here!!!
Sukses UN Praktik TKJ

Facebook

Hosting Gratis
Web Hosting

Online


TUGAS AKHIR PENDIDIKAN AGAMA

PERGAULAN BEBAS SUDAH MENJADI BUDAYA

Dosen: Junaidi, S.Ag., M.Hum

 

Disusun Oleh:

Nama        : Wahyu Andi Saputro

NIM          : 12.11.5859

Kelas         : 12-S1TI-02

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

STMIK “AMIKOM” YOGYAKARTA

2012

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya yang telah di limpahkan sejak mencari narasumber/responden, ide, dan menyusun , hingga menyelesaikan makalah ini. Makalah ini tak akan terwujud tanpa pengarahan , bimbingan dan kerja sama semua pihak yang telah turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

  1. Bapak Junaidi Idrus, S.Ag., M.Hum, selaku dosen pembimbing Tugas Akhir Pendidikan Agama.
  2. Ibunda tercinta yang selalu mendoakan buat kelancarannya.
  3. Dek Oviana yang telah memberiku semangat dan motivasi dalam menyusun makalah ini.

Saya menyadari makalah ini masih banyak kekurangan, karena masih ada kekurangan dalam memberikan pengarahan. Oleh sebab itu, untuk perbaikan dan menyempurnakan makalah ini, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang berkepentingan, dan khususnya untuk para mahasiswa.

 

Yogyakarta, 17 Desember 2012

Penulis

 

DAFTAR ISI

 

COVER DALAM…………………………………………………………………………….      i

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………      ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………      iii

BAB I        PENDAHULUAN

  1. Alasan Pemilihan Judul………………………………………………..      1
  2. Latar Belakang……………………………………………………………      1
  3. Tujuan………………………………………………………………………..      1

BAB II       ISI

  1. Pergaulan Bebas Sudah Menjadi Budaya?……………………..      2
  2. Karakteristik Demografik Responden?…………………………..      4
  3. Bentuk Prilaku Seksual Responden?………………………………      4
  4. Pengetahuan Responden Mengenai PMS-HIV/AIDS?…….      5
  5. Persepsi Responden rerhadap PMS-HIV/AIDS?…………….      6
  6. Petunjuk untuk Berperilaku (Sumber Informasi,

Lingkungan Pergaulan, dan Harapan)?…………………………..      7

  1. Tindakan Pencegahan Penularan PMS-HIV/AIDS

oleh Responden?…………………………………………………………      8

BAB III     PENUTUP

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………      9
  2. Saran………………………………………………………………………….      9

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Alasan Pemilihan Judul

Pergaulann Bebas atau sering disebut Freesex atau seks bebas merupakan seks yang banyak dilakukan para siswa khususnya di kalangan mahasiswa. Penulis member judul “Pergaulan Bebas Sudah Menjadi Budaya”.

Karena itu penulis ingin memberikan penjelasan dan informasi tentang bahaya dari pergaulan bebas dan cara mengantisipasinya. Agar tidak terjerumus dalam jalan yang sesat.

 

  1. B.     Latar Belakang

Seks bebas merupakan maraknya pergaulan bebas dikalangan remaja akhir-akhir ini, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang pendidikan seks yang jelas dan benar. Dari itu perlu memberikan pengarahan yang jelas dan benar tentang seks bebas tersebut diharapkan dapat menurunkan prilaku seks tersebut, penelitian ini menggunakan ekstristip yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang seks bebas di kost.

 

  1. C.    Tujuan
    1. Memberikan pengarahan untuk bergaul yang baik.
    2. Memberikan pengetahuan tentang bahaya dari pergaulan bebas.
    3. Membrikan infromasi tentang pergaulan bebas.
    4. BAB II

      ISI

      “PERGAULAN BEBAS SUDAH MENJADI BUDAYA”

       

       

       

       

      1. A.    Pergaulan Bebas Sudah Menjadi Budaya?

      Remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung terhadap orangtua kearah kemandirian, minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai estetika dan isu moral. Seiring dengan matangnya fungsi seksual kadang timbul pula berbagai dorongan dan keinginan untuk pemuasan seksual. Ketika kontrol orangtua, masyarakat, dan pembinaan demikian minimnya mengakibatkan fenomena pergaulan bebas khususnya yang berkaitan dengan premarital intercourse (hubungan seks pranikah) merupakan sesuatu yang lazim dikalangan remaja, termasuk didalamnya mahasiswa. Hubungan seks pranikah responden sebagian besar dimulai pada saat menginjak bangku kuliah. Pada saat kuliah, mahasiswa tinggal jauh dari orangtuanya, sehingga otomatis kontrol orangtuanya relatif berkurang. Berdasarkan penelitian, menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan responden yang berada di lingkungan indekost yang baik, maka responden yang berada dilingkungan indekost yang kurang baik akan mempunyai risiko sebesar 2,14 kali untuk berperilaku seksual yang berisiko PMS.

      Hal ini terjadi karena lingkungan indekost mempunyai pengawasan yang longgar, pengawasan yang semula diharapkan dapat dilakukan oleh induk semang sebagai pengganti orang tua, ternyata sangat kecil kemungkinannya untuk dilakukan. Aktivitas seksual biasanya dilakukan mulai siang hari dan berakhir menjelang sore. Kondisi kost pada siang hari relatif “aman“ karena suasanya sepi sekali. Jika ada salah satu warga kost yang kebetulan melihat temannya melakukan seks bebas di kamarnya, mereka cenderung tidak peduli dan menganggap hal itu bukan urusannya. Terdapat sikap serba boleh dalam pergaulan diantara remaja yang ditelitinya, suatu sikap yang dianggap menyimpang dari norma masyarakat yang dominan berlaku. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.

      Pengetahuan mengenai PMS dan HIV/AIDS diperoleh responden sejak duduk di bangku SMP. Meskipun dari hasil wawancara diketahui bahwa pemahaman mengenai PMS belum seberapa dibandingkan HIV/AIDS, namun karena PMS dalam penularannya berhubungan sangat erat dengan HIV/AIDS, maka dapat dikatakan bahwa pengetahuan responden sudah baik. Meskipun demikian, peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan perilaku, namun variabel ini mempunyai hubungan positif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan responden mengenai PMS-HIV/AIDS sudah baik, namun perilaku pencegahan penularan PMS-HIV/AIDS belum maksimal. Persepsi adalah pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera.

      Setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda meskipun mengamati obyek yang sama. Pada umumnya responden memandang bahwa PMS dan HIV/AIDS adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya, dan mereka juga mengetahui bahwa perilaku seks bebas yang mereka lakukan berisiko tinggi tertular PMS dan HIV/AIDS, apalagi bila hubungan seksual dilakukan dengan PSK (Pekerja Seks Komersial). Persepsi responden mengenai PMS-HIV/AIDS menimbulkan perasaan terancam dan takut tertular. Perasaan terancam ini turut mempengaruhi perilaku responden dalam melakukan tindakan pencegahan penyakit. Individu yang dalam keadaan emosional (misalnya ketakutan) biasanya tidak dapat mendengarkan dengan baik apa yang dijelaskan kepadanya. Namun rasa takut tidak selamanya menimbulkan reaksi penolakan atas tindakan yang dianjurkan. Biasanya strategi menakuti (fear arousal) digunakan dalam upaya pencegahan penyakit.

       

      1. B.     Karakteristik Demografik Responden?

      Dari hasil wawancara didapat bahwa responden yang termuda berusia 20 tahun, sedangkan responden tertua berusia 24 tahun. sebagian besar responden adalah laki-laki dan berstatus tempat tinggal sementara (kost).

       

      1. C.    Bentuk Perilaku Seksual Responden?

      Aktivitas seksual kebanyakan dimulai saat menginjak bangku kuliah, antara semester 3–6. Ada satu mahasiswa yang melakukan aktivitas tersebut pada saat di bangku SMU/SMA kelas akhir. Perilaku seksual responden tidak diketahui oleh orang tuanya dan biasanya hubungan seksual dilakukan ditempat kost pria dengan alasan pengawasan di sana lebih longgar daripada ditempat kost wanita. Selain itu ada kecenderungan sesama warga kost bersikap tidak peduli terhadap perilaku seks bebas tersebut.

      AW (23 tahun, mahasiswa)

      Pertama kali melakukan setelah masuk kuliah,…. semester berapa ya..mungkin semester 4

      IN (21 tahun,mahasiswi)

      Kalo ngelakuin dikostku nggak mungkin, cowok aja dilarang masuk, habis banyak yang berjilbab”.

      TY (24 tahun, mahasiswa)

      Aku biasanya kalo mau gituan dikamar kostku, disana nggak ada Pak Kostnya, dan anak-anak maksudku temen kostku cuek aja habis sudah biasa..”.

      Pada umumnya hubungan seksual dilakukan pada siang hari sampai menjelang sore saat setiap orang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing–masing. Kegiatan ini baru diakhiri pada sore hari ketika setiap orang sudah kembali dari aktivitasnya.

      TY (24 tahun, mahasiswa)

      “….setelah kuliah langsung cabut kekostku, ntar sorean dikit pacarku kuantar pulang. Pulang malam jarang banget, gak enak sama orang kampung… “

       

      1. D.    Pengetahuan Responden Mengenai PMS-HIV/AIDS?

      Pada umumnya istilah PMS belum cukup populer dikalangan responden. Responden baru bisa menyebutkan jenis PMS setelah pewawancara memberi penjelasan bahwa PMS adalah Penyakit Menular Seksual. Sebagain besar responden hanya menyebutkan 2 atau 3 jenis penyakit saja. Jenis PMS yang paling banyak disebut oleh responden adalah Sifilis dan Herpes. Gejala dan cara penularan PMS juga tidak banyak diketahui. Sebagian besar responden menjawab bahwa PMS ditularkan melalui hubungan seksual dan kontak langsung dengan kulit penderita. Namun ada juga responden yang mampu menjelaskan gejala dan cara penularan PMS dengan lengkap.

      ST (21 tahun, mahasiswa)

      “..rasanya gatal – gatal, jamuran di alat kelamin, ditularkan lewat hubungan seksual dengan penderita atau bersentuhan langsung..“

      TA (21 tahun, mahasiswa)

      Tahu dong! PMS itu Penyakit Menular Seksual, contohnya Sipilis, GO, Herpes, Candidiasis, Klamidiasis dan kalo gak salah Hepatitis yang A itu termasuk dalam penyakit yang menular lewat hubungan seksual juga. Gejalanya rasa gatal, pembengkakan dan perubahan anatomi patofisiologis pada alat kelamin, timbul benjolan pada alat kelamin, rasa sakit sampai adanya abses pada alat kelamin disertai dengan nanah,…”

      Istilah HIV/AIDS sudah sangat populer dikalangan responden. Semua responden sudah pernah mendengar informasi mengenai HIV/AIDS bahkan dari keterangan yang diberikan dapat diketahui bahwa pada umumnya responden sudah paham mengenai penyakit tersebut. Jalur penularan dan gejala – gejalanya dapat dijelaskan dengan baik oleh responden meskipun ada sebagian kecil yang jawabannya belum lengkap.

      FM (20 tahun, mahasiswi)

      Penyakit yang sangat berbahaya di mana sistem kekebalan tubuh menurun, orang yang terkena penyakit ini seperti orang sakit flu, batuk, demam dan pilek tapi lama gak sembuh–sembuh, badannya lemes dan mudah capek gitu…

      SN (22 tahun, mahasiswa)

      ..bisa kena AIDS jika ciuman bibir pas sariawan, jarum suntik, begituan sama cewek nakal..”.

      IN (21 tahun, mahasiswi)

      …lewat hubungan badan, ibu ke anaknya, pake jarum suntik tidak steril, pelacur pasti.

      Pertanyaan mengenai tingkat kesembuhan penderita PMS dan HIV/AIDS mendapatkan jawaban yang bervariasi dari responden. Kebanyakan dari mereka merasa ragu apakah penderita PMS-HIV/AIDS dapat disembuhkan atau tidak.

      SN (22 tahun, mahasiswa)

      …gak tau ya kalo sekarang, setahuku dulu AIDS gak bisa disembuhkan, kalo PMS bisa ya?”.

      TY (24 tahun, mahasiswa)

      ..kalo sakit AIDSnya belum lama mungkin bisa disembuhkan. Kata teman saya, Herpes gampang aja, pokoknya olesin salep kulit sembuh sendiri.

       

      1. E.     Persepsi Responden terhadap PMS-HIV/AIDS?

      Pada umumnya responden merasa takut tertular Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS, responden juga mengetahui bahwa perilaku seks bebas berisiko tinggi tertular PMS dan HIV/AIDS namun mereka beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan sudah cukup berhati–hati, sehingga kemungkinan tertular penyakit tersebut relatif kecil.

      IN (21tahun, mahasiswi)

      …takut juga, tapi mau gimana lagi, sudah jadi kebiasaan jadi sulit berhenti. Lagipula saya kan hanya berhubungan dengan pacar, moga-moga aja dia gak selingkuh..”.

      TA (21 tahun, mahasiswa)

      “..takut….tapi aku yakin cewekku bebas penyakit. Kalau setahuku asal tidak melakukannya dengan perek (PSK) risiko kena penyakit kelamin sedikiit sekali.

      1. F.     Petunjuk untuk Berperilaku (Sumber Informasi, Lingkungan Pergaulan, dan Harapan)?

      Informasi mengenai PMS dan HIV/AIDS pada umumnya diterima responden saat duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Namun ada sebagian kecil responden yang baru mengenal PMS dan HIV/AIDS saat di SMU (Sekolah Menengah Umum). Informasi mengenai PMS-HIV/AIDS diperoleh responden dari berbagai sumber yaitu koran, majalah, buku, radio, televisi, internet, guru, dan diskusi dengan teman.

      Semua responden menyatakan behwa akses untuk mendapatkan informasi sangat mudah, kareana mereka bisa mendapatkan informasi tersebut kapan saja. Namun mayoritas responden dengan berbagai alasan mengungkapkan bahwa informasi yang mereka butuhkan belum cukup.

      TM (20 tahun, mahasiswa)

      Belum cukup, tapi kalo cuman baca gak tertarik. Aku beberapa kali liat dialog-dialok di tivi. Lebih asyik.”

      Teman pergaulan responden berasal dari berbagai unsur, antara lain: teman kuliah, teman ditempat tinggal, dan teman les. Dari berbagai lingkungan ini responden menyatakan bahwa ada beberapa dari temannya yang melakukan seks bebas, namun hanya sebagian kecil saja.

      Seluruh responden menyatakan bahwa peran pemerintah belum cukup dan masih perlu berperan aktif dalam upaya pencegahan penularan PMS dan HIV/AIDS. Ketika ditanyakan bentuk peran serta yang diharapkan dari pemerintah sebagian responden terdiam dan bingung. Sebagian lagi dengan tegas menyatakan bahwa mereka berharap pemerintah dapat berperan serta melalui pemberian informasi mengenai PMS dan HIV/AIDS dalam bentuk iklan layanan masyarakat, poster, propaganda ke setiap kampus dan sekolah. Ada responden yang berharap pemerintah dapat berperan serta melalui penindakan tegas terhadap pelaku seks bebas. Ketika ditanyakan adakah perubahan perilaku jika pelaku seks bebas ditindak, jawaban yang diberikan beragam.

       

      TY (24 tahun, mahasiswa)

      Belum siap, mungkin aku melakukan dengan sembunyisembunyi, lebih berhati-hati.!”.

      IN (21 tahun, mahasiswi)

      “.. akan berhenti, takut dan malu banget kalo sampai ketahuan..hii.

      FM (20 tahun, mahasiswi)

      “..nggak tau, mungkin aku rundingkan dulu dengan pacarku..”.

       

      1. G.    Tindakan Pencegahan Penularan PMS-HIV/AIDS oleh Responden?

      Sebagian kecil responden melakukan tindakan pencegahan penularan PMS-HIV/AIDS dengan cara selalu menjaga kebersihan badan dan setia pada pasangan. Beberapa responden memilih kondom sebagai alat pencegahan, itupun dipakai hanya jika sedang berhubungan dengan PSK (Pekerja Seks Komersial).

      BM (24 tahun, mahasiswa)

      ..dengan wanita nakal mesti hati-hati, harus pake kondom, takut ketularan penyakit. Kalau dengan pacar bebas aja..ha..ha..

      Alasan lain responden yang menggunakan kondom lebih pada upaya untuk mencegah kehamilan. Seperti dituturkan oleh responden berikut:

      MK (24 tahun, mahasiswa)

      Dulu pake kondom waktu awal-awal, masih takut kebobolan. Tapi dari pembicaraan dengan teman-teman akhirnya aku tahu cara yang lebih efektif yaitu dengan buang diluar...

      Pada awalnya responden memakai kondom ketika berhubungan seksual karena takut terjadi kehamilan, namun ketika aktivitas seksual telah lama dilakukan dan tidak timbul kehamilan mereka memilih untuk tidak memakainya lagi dengan alasan kenyamanan. Sebagai gantinya digunakan metode coitus interuptus (senggama terputus) yang dikenal responden sebagai “buang diluar”, oral seks, dan saling membantu masing–masing pihak untuk memuaskan tanpa mengadakan penetrasi sperma ke vagina.

       

      BAB III

      PENUTUP

      1. A.    Kesimpulan

      Sebagain besar responden tinggal sementara/indekost, di mana pengawasan dari keluarga dan lingkungan kurang kuat sehingga perilaku seks bebas mudah dilakukan. Lingkungan kost tempat tinggal responden kondusif untuk melakukan seks bebas. Meskipun secara keseluruhan pengetahuan mayoritas responden mengenai PMS dan HIV/AIDS sudah baik, dan mengetahui bahaya penyakit tersebut namun mereka tetap melakukan seks bebas.

      Tindakan pencegahan penularan PMS-HIV/AIDS yang dilakukan oleh responden yaitu dengan menggunakan kondom setiap berhubungan dengan PSK, setia pada pasangannya, dan selalu menjaga kebersihan badan. Upaya pencegahan penularan PMS-HIV/AIDS yang dilakukan petugas pelayanan kesehatan melalui pemberian informasi dapat dikatakan belum sepenuhnya mencapai sasaran.

       

      1. B.     Saran

      Berikut adalah beberapa cara mengatasi pergaulan bebas yang dapat kita terapkan:

      ü  Menanamkan keimanan yang kokoh

      Hal pertama yang harus dilakukan sebagai cara mengatasi pergaulan bebas adalah dengan menanamkan keimanan yang kokoh di jiwa para remaja sekarang. Memang saat ini kalangan remaja kita kebanyakan sudah tak mengindahkan lagi akan hal iman yang berkaitan dengan agama. Agama mengatur batasan-batasan setiap manusia dalam berinteraksi dengan yang lainnya. Jika seseorang sudah memiliki iman yang kokoh maka ia sendirlah yang akan mengingatkan dirinya sendiri untuk berada dalam batasan-batasan tersebut. Penanaman iman ini haruslah menadi perhatian utama dari semua pihak.

      ü  Menanamkan nilai-nilai ketimuran

      Selain iman yang kokoh, cara mengatasi pergaulan bebas adalah dengan membekali remaja dengan pemahaman akan nilai-nilai ketimuran. Tentu saja nilai ketimuran ini selalu berkaitan dengan nilai Keislaman yang juga membentuk akar budaya ketimuran. Nilai yang bersumberkan pada ajaran spiritualitas agama ini perlu dipegang. Termasuk meningkatkan derajat keimanan dan moralitas pemeluknya. Dengan dipegangnya nilai-nilai ini, harapannya mereka khususnya kalangan muda akan berpikir seribu kali untuk terjun ke dunia pergaulan bebas.

      ü  Mengurangi Menonton Televisi

      Televisi idealnya bisa menjadi sarana mendapatkan informasi yang mendidik dan bisa meningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun, kenyataannya, saat ini harapan itu sangat jauh. Televisi kita terutama stasiun televisi swasta, mereka lebih banyak menampilkan acara hiburan, maupun sinetron-sinetron yang menawarkan nilai-nilai gaya hidup bebas, hedonis. Begitu juga beragam tayangan infotainment yang kadang menayangkan acara perselingkuhan, sex bebas di kalangan artis. Dengan demikian, kisah pergaulan bebas bukan menjadi hal yang tabu lagi. Makanya, tak ada langkah yang lebih manjur sebagai cara mengatasi pergaulan bebas selain mengurangi menonton televisi ini karena lambat laun otak akan teracuni oleh nilai-nilai yang sebenarnya sangat negatif. Untuk mendapatkan informasi, kalangan muda bisa mengalihkan perhatian dengan membaca koran, majalah maupun buku-buku. Pekerjaan yang agak berat memang, tapi jauh lebih produktif daripada kebanyakan menonton televisi yang tidak jelas dan cenderung merusak akal sehat pikiran.

       

       

      ü  Banyak Beraktivitas Secara Positif

      Cara mengatasi pergaulan bebas ini menurut berbagai penelitian sangat efektif dijalankan. Pergaulan bebas, biasanya dilakukan oleh kalangan muda yang banyak waktu longgar, banyak waktu bermain, bermalam minggu. Nah, untuk mengantisipasi hal tersebut, mengalihkan waktu untuk kegiatan lewat hal-hal positif perlu terus dikembangkan. Misalnya dengan melibatkan anak muda dalam organisasi-organisasi sosial, menekuni hobinya dan mengembangkannya menjadi lahan bisnis yang menghasilkan, maupun mengikuti acara-acara kreatifitas anak-anak muda. Dengan demikian, waktu mudanya akan tercurahkan untuk hal-hal positif dan sedikit waktu untuk memikirkan hal-hal negatif seperti pergaulan bebas tersebut.

      ü  Sosialisasi Bahaya Pergaulan Bebas

      Di kalangan muda, pergaulan bebas sering dilakukan karena bisa jadi mereka tidak tahu akibat yang ditimbulkannya. Seperti misalnya penyakit kelamin yang mematikan. Nah, sosialisasi hal ini. Informasi-informasi mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat pergaulan bebas ini perlu terus disebarkan di kalangan muda. Harapannya, mereka juga punya informasi sebagai bahan pertimbangan akal sehatnya. Jika informasi tersebut belum didapatkan ada kemungkinan mereka akan terus melakukan pergaulan bebas semau mereka. Tapi, kalau informasi sudah didapatkan tapi mereka tetap nekad melakukan itu persoalan lain lagi. Sepertinya perlu ada penanganan khusus, apalagi yang sudah terang-terangan bangga melakukan pergaulan bebas.

      ü  Menegakkan Aturan Hukum

      Bagi para pelaku yang bangga melakukan hal-hal tersebut, tak ada hal lain yang bisa menghentikan selain adanya perangkat hukum dan aturan hukum yang bisa menjeratnya. Setidaknya sebagai efek jera. Yang demikian harus dirumuskan dan dilaksanakan melalui hukum yang berlaku di negara kita. Langkah ini sebagai benteng terakhir untuk menyelamatkan anak-anak muda dari amoralitas karena perilaku pergaulan bebas yang lambat laun otomatis akan merusak bangsa ini. Cara mengatasi pergaulan bebas ini dapat dianggap sebagai cara yang lebih efektif.

      ü  Munakahat

      Munakahat atau menikah. Cara ini efektif sekali dan memang telah disebutkan dalam syariat Islam. Dengan menikah, maka semua perbuatan yang dilarang akan diperbolehkan dan justru mendatangkan pahala bagi pelakunya.

      Namun jika memang masih dalam keadaan yang belum mampu untuk menikah, maka solusi islam yang ditawarkan adalah dengan melakukan puasa. Inilah yang ditawarkan oleh Islam sebagai salah satu solusi atas pergaulan bebas. Dengan puasa ini akan menjadi perisa bagimasing-masing diri sehingga menghindarkan remaja kta dari melakukan hal-hal yang masih tidak diperbolehkan.

       

      Download PDF

Leave a Reply

Comments Facebook